Menyampaikan the Bad News Kepada Karyawan Anda
Siapapun bisa melihat kalau keadaan ekonomi dunia yang belum juga stabil di tahun ini sedikit banyak memberikan pengaruh untuk pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dalam negeri. Sampai dengan Januari 2009 sendiri, diperkirakan ada sekitar 20 juta pengangguran di seluruh dunia (ILO). Sementara di Indonesia sendiri jumlah pengangguran akan meningkat sebanyak 8.87% akibat krisis global ini.
Lay off atau pemutusan hubungan kerja seringkali jadi salah satu langkah strategi yang harus dilakukan perusahaan untuk tetap bertahan di dunia bisnis. Beberapa orang harus ´pergi´ demi efisiensi agar perusahaan tetap bisa hidup. Hal ini mungkin terjadi juga di perusahaan tempat Anda bekerja. Manajemen memutuskan beberapa orang bawahan Anda terpaksa harus ´dirumahkan´ akibat produktifitas yang tidak mencapai target dan pasar yang sedang tidak ´sehat´.
Sebagai atasan karyawan tersebut, Andalah yang pertama kali menyampaikan berita ini kepada mereka, sebelum langkah selanjutnya di lakukan oleh manajemen. Memang tidak ada cara yang baik untuk menyampaikan berita buruk. Namun sebagai leader yang sudah sepantasnya juga berperan sebagai good communicator, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meminimalkan dampak buruk akibat hal ini, sehingga walaupun mereka merasa kecewa karena telah mengalami pemutusan hubungan kerja, kekecewaan mereka tidak bertambah dengan cara manajemen dan Anda melakukan hal tersebut.
1. Pilihlah waktu yang tepat untuk menyampaikan berita ini.
Umumnya karyawan sudah bisa "mencium" kabar buruk yang akan disampaikan kepada mereka. Anda bisa menyampaikan berita ini pada akhir jam kerja ketika si karyawan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan ketika kantor mulai sepi. Atau Anda juga bisa menyampaikan berita ini ketika jam kerja baru dimulai sehingga karyawan yang bersangkutan bisa membereskan beberapa pekerjaannya sebelum ia pergi.
2. Sampaikan berita tersebut dengan personal.
Panggilah karyawan satu-persatu walaupun manajemen memutuskan hubungan kerja dengan beberapa orang karyawan Anda. Keadaan ini akan memudahkan Anda untuk melihat reaksi karyawan yang bersangkutan sehingga penanganannya akan situasional.
3. Berikan penjelasan yang jujur dan jelas
Jangan menutupi hal yang sebenarnya terjadi. Jelaskan posisi perusahaan yang sesungguhnya, namun jangan memberikan informasi terlalu mendetail mengenai keadaan perusahaan yang menurut manajemen merupakan informasi classified. Hal terpenting adalah membuat mereka mengetahui dan memahami alasan diambilnya langkah pemutusan hubungan kerja tersebut.
4. Berikan kesempatan untuk bertanya.
Sebelum Anda menyampaikan berita ini, buatlah daftar pertanyaan yang mungkin ditanyakan dan berikan jawaban dengan cara yang tidak defensif. Sampaikan jawaban dengan penuh rasa empati dan simpati, bahwa Anda mengerti situasi yang merekasedang hadapi. Dua kata magic seperti "maaf" dan "terima kasih" adalah kata-kata yang harus Anda gunakan ketika menyampaikan berita ini.
5. Berikan hak mereka.
Untuk memudahkan masa transisi dan meringankan beban mereka, pastikan bahwa perusahaan memberikan hak mereka secara utuh sebagai karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja seperti uang pesangon yang proporsional dan benefit lainnya.
6. No public shaming.
Dengan cara apapun jangan mempermalukan karyawan yang mengalami pemutusan kerja, misalnya dengan membersihkan mejanya segera setelah berita tersebut disampaikan, langsung memutus akses telefon, atau mematikan komputernya sebelum yang bersangkutan kembali untuk membereskan mejanya. Jika hal tersebut memang prosedur yang harus dilakukan, berilah kelonggaran sedikit karena hal ini bisa mempermalukan si karyawan di depan rekan kerjanya.
Pemutusan hubungan kerja yang tidak dilakukan dengan benar dan cermat akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Karyawan yang merasa dirugikan bukan tidak mungkin menuntut perusahaan Anda sehingga masalah ini menjadi berlarut-larut. Karena itulah jangan pernah mengira bahwa masalah ini tidak perlu mendapatkan perhatian lebih dari manajemen dan Anda sebagai pemimpin karyawan tersebut.
Remember! :
Staf Anda juga manusia, punya rasa, punya hati, jangan samakan dengan mesin produksi. So be persuasive mendekati karyawan Anda.
Monday, August 22, 2011
Perkuat Posisimu di Masa Sulit !!
Perkuat Posisi di Masa Sulit
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
Perkuat Posisi di Masa Sulit
Perkuat Posisi di Masa Sulit
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
Dari hari ke hari, kita tak pernah dibuat lupa soal resesi yang sekarang ini tengah berlangsung. Media kian sering menjadikannya sebagai headline, lalu muncullah kekhawatiran itu: Apakah karier saya akan terpengaruh karenanya? Saat dihadapi dengan kemungkinan hilangnya pekerjaan, Anda punya dua pilihan. Entah itu membiarkan karier Anda dibayang-bayangi oleh rasa khawatir yang berlebihan atau justru memilih untuk menghadapi situasi tersebut dengan melakukan sesuatu untuk menghindarinya. Berikut beberapa sikap profesional yang perlu Anda rangkul agar untuk mempertahankan posisi Anda di perusahaan, bahkan menjadikan situasi buruk ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Eksistensi
Begitu kemungkinan pemutusan hubungan kerja ada di depan mata, bisa jadi insting pertama Anda adalah diam atau bahkan “bersembunyi” dan berharap bila tidak terlalu menonjol, nama Anda tidak akan masuk dalam daftar kandidat yang akan di-PHK. Ini adalah taktik yang salah. Lagipula siapa sih yang lebih dipilih oleh perusahaan untuk diberhentikan? Karyawan yang dengan jelas-jelas menunjukkan bahwa ia telah melakukan beberapa hal penting untuk memberikan kontribusi kepada perusahaan atau si-siapa-namanya-itu yang seringkali membenamkan diri di kubikel dan sulit ditemukan saat hendak dimintai bantuan? Ya, Anda pasti tahu jawabannya. Jadi, hadiri semua rapat yang diselenggarakan dan berpartisipasilah dalam ajang kantor. Hal ini akan menunjukkan semangat tinggi Anda yang tetap terjaga, komitmen senantiasa dijalani dan juga membuktikan Anda pemain tim yang baik. Jangan lupa pula untuk menjaga hubungan baik dengan atasan. Bukan berarti menjadi penjilat, melainkan secara rutin memastikan atasan tahu bahwa Anda ada di kantor untuk membantunya dan perusahaan melewati masa-masa sulit.
Jadi Relawan Untuk Kerja Tambahan
Berkurangnya staf dijamin membuat beberapa proyek atau tugas jadi terlantar. Ini adalah kesempatan bagi Anda untuk mengajukan diri dan menciptakan kesan profesional yang baik. Sikap inisiatif untuk mengerjakan tugas tambahan ini akan menunjukkan kesediaan Anda untuk berusaha maksimal dalam membantu perusahaan selama masa-masa krisis. Bisa dipastikan bos akan mengingat kontribusi tersebut dan memberikan penghargaan yang pantas atas usaha Anda saat kondisi membaik. Bukan hanya itu, keahlian kerja juga meluas karenanya dan menjadikan Anda lebih bernilai.
Kembangkan Sikap Positif
Sekarang ini bukanlah saatnya untuk mengeluh soal berkurangnya kualitas beberapa fasilitas di kantor atau menurunnya uang saku perjalanan dinas. Kesengsaraan memang senang mencari teman dan orang-orang dengan sikap negatif akan memikat pribadi-pribadi negatif pula. Percaya atau tidak, pemikiran yang merugikan ini bisa menular. Bahkan, sikap buruk ini adalah salah satu sifat yang tak diinginkan perusahaan dari karyawan mereka. Intinya, semua pihak harus melakukan beberapa pengorbanan selama periode kekacauan finansial seperti ini. Ketimbang mengeluh, tetaplah bersemangat dan berikan kontribusi positif. Bisa jadi perusahaan akan melihat Anda sebagai "hikmah" dari sebuah musibah.
Jadi Pemain Tim
Wajar untuk serta-merta mengutamakan keselamatan sendiri saat dihadapi kemungkinan terburuk soal karier. Namun sikap egois ini tak akan memberikan Anda nilai tambah dari manajemen atau kolega yang lain. Kerjasama dan komunikasi sangatlah vital di masa-masa sulit. Jadi, jangan buat situasi jadi tambah buruk dengan menghindari partisipasi dalam gosip dalam bentuk apapun, terutama soal siapa yang berikutnya akan kena PHK. Tindakan tersebut hanya akan mencoreng sikap profesional yang selama ini telah Anda bangun, dan jangan dikira perusahaan tidak akan mengetahui aksi mempertahankan posisi yang kurang terpuji tersebut. Lebih baik, tunjukkan loyalitas Anda kepada perusahaan beserta karyawan-karyawan mereka lewat komunikasi formal dan informal di dalam tim.
Buat Diri Anda Tak Tergantikan
Tak perlu jadi jenius untuk tahu bahwa karyawan yang andal dalam multitasking dan bersedia menangani beberapa peran sekaligus sangatlah berharga buat perusahaan. Semakin besar Anda dijadikan tumpuan oleh perusahaan, semakin berkuranglah kemungkinan mereka membiarkan Anda pergi. Dan walaupun menjadi yang tak tergantikan seperti ini merupakan suatu posisi yang perlu dijaga setiap waktu, hal ini justru lebih penting saat masa-masa tengah kritis. Mengarahkan diri Anda ke posisi tersebut saat perusahaan tengah mengalami penurunan drastis bisa menjadi suatu modal jangka panjang. Betul sekali, alasan kuat yang bisa Anda ajukan saat meminta kenaikan gaji atau jabatan di kemudian hari.
By: Intan Iskandar
Redaktur Pelaksana Cosmopolitan Indonesia
Wednesday, August 17, 2011
Kenali Posisi Keuangan Pribadi Anda!
Dalam phase manakah Anda berada?
Merencanakan keuangan pribadi sama halnya dengan mengarahkan kendaraan atau menentukan perjalanan. No where, anywhere. Mungkin akan semakin banyak kendala, kesulitan, dan lain sebagainya jika tidak dimulai dari sekarang untuk keuangan pribadi maupun keluarga.
Beberapa contoh ditemukan teman-teman yang memiliki penghasilan lumayan besar, misal a rupiah, tetapi rasio hutangnya luar biasa besar di atas rata-rata. Cicilan mobil, motor, kartu kredit bank ampun, kartu kredit bank sita, kartu kredit bank pelit bahkan cicilan untuk kartu kreditnya saja mencapai 30% dari total penghasilan, belum cicilan lainnya.
Mulai dari sekarang mari perbaiki sistem keuangan pribadi agar kita sebagai karyawan, ataupun pengusaha mempunyai "antibiotik" terhadap utang dengan memperkecil porsi hutang serta memperbesar porsi pendapatan (tetap) dan pendapatan lainnya (bisa melalui investasi kecil-kecilan dan sebagainya).
Mari merdekakan diri dan keluarga terlebih dulu dari jerat hutang !
Saturday, June 25, 2011
Resolusi Sukses ?
Resolusi Kesuksesan
Mungkin sah-sah saja kalau banyak orang yang mengartikan kesuksesan dengan pencapaian materi dengan berbagai simbol dan representasinya. Sah karena memang faktanya materi termasuk variabel utama bagi kelangsungan hidup kita. Kata orang, uang atau materi memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya butuh uang.
Dikatakan sah juga karena memang tidak ada alasan hukum untuk menyalahkannya. Yang bisa mengatakan itu pas atau kurang pasnya bukan alasan hukum, namun perkembangan peradaban dan nalar-spiritual masyarakat. Mungkin suatu saat masyarakat kita tidak lagi menjadikan pencapaian materi sebagai ukuran tunggal kesuksesan.
Harta dengan berbagai simbol dan representasinya itu sebetulnya bukanlah makhluk yang a-spiritual. Tuhan sendiri menyebutnya sebagai alat untuk kebaikan. Yang selalu diingatkan adalah cara mendapatkannya, cara memahaminya, dan cara penggunaannya. Jadi, intinya bukan pada materinya dan berbagai simbolnya itu, melainkan lebih pada the way we use.
Mengaudit Cara Mendapatkan
Selain ada dua cara yang sudah sama-sama kita ketahui dalam mendapatkan kesukesan, yaitu cara benar dan cara menyimpang, ada lagi cara-cara yang mungkin perlu kita audit. Ini mumpung masih dalam suasana tahun baru. Mudah-mudahan dengan inisiatif ini, kualitas hidup kita menjadi semakin lebih baik.
Pertama, apakah kesuksesan itu kita dapatkan dengan cara-cara yang juga ikut mensukseskan orang lain? Apakah selama ini kesuksesan itu kita dapatkan dengan cara mengoptimalkan penggunaan potensi / kompetensi pribadi dan orang lain? Apakah kita sudah menggunakan cara-cara "empowering"?
Kalau cara itu yang sudah sering kita lakukan, berarti kita sudah berada di track yang tepat. Tugas kita adalah mempertahankan dan meningkatkan. Pesan yang perlu kita ingat adalah: "even the best, it must be improved", meski sudah baik namun harus tetap diperbaiki.
Kedua, apakah kesuksesan itu kita dapatkan dari pemberian atau penganugerahan, by being inaugurated / given? Misalnya, orangtua kita mewariskan berbagai aset dan pengaruh yang cukup besar sehingga kita merasa kesuksesan kita itu bukan karena kompetensi, tetapi karena legacy (warisan).
Atau juga misalnya kita bekerja di perusahaan besar, mapan, dan punya nama. Dengan berbagai peranan yang diberikan kepada kita lalu kita merasa kesuksesan yang kita dapatkan itu sebetulnya adalah semu. Maksudnya, yang lebih berperan di situ bukan kompetensi kita sebagai pribadi, tetapi pengaruh organisasi.
Jika perasaan itu yang sering muncul, yang tepat untuk kita lakukan adalah bersyukur. Dalam "ilmu Tuhan" tidak ada kebetulan yang sifatnya benar-benar kebetulan. Kita menjadi anak orang hebat itu bukan kebetulan. Kita bekerja di perusahaan mapan itu bukan kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan dan tujuan.
Cuma, yang perlu kita audit adalah skala kesyukuran kita. Skala yang paling tinggi adalah ketika kita mampu menggunakan resource dan potensi yang ada untuk mencapai tujuan yang selalu lebih besar, lebih tinggi dan lebih positif dengan cara-cara yang positif. Skala yang paling rendah adalah ketika kita hanya mampu bersyukur dengan mulut dan kata-kata.
Ketiga, apakah kesuksesan itu selama ini kita dapatkan dengan cara-cara memperdaya orang lain dan keadaan, by politicking? Di rubrik Surat Pembaca koran ibukota, sering saya membaca curhat beberapa pelajar senior kita yang ada di luar negeri. Mereka dilematis.
Satu sisi, mereka dipanggil-panggil oleh nasionalisme-nya untuk kembali ke Indonesia, menerapkan ilmunya di sini. Tapi di sisi lain, mereka takut. Kesuksesan (pencapaian materi) di sini kerap tidak berbanding lurus dengan kompetensi. Banyak orang yang bisa meraih kekayaan karena kecanggihannya dalam bermain politicking, bukan karena empowering atau actualizing.
Tradisi politicking di kita memang sudah cukup gila, dari mulai KKN, suap tender, penyalahgunaan kekuasaan, dll. Bahkan sudah mau hampir terbangun keyakinan kolektif bahwa tanpa politicking, rasa-rasanya susah kita men - down load kesuksesan dengan cepat dan mudah.
Menggeser Motif
Yang benar-benar perlu kita audit adalah poin nomor tiga itu. Apa bisa kita bersih dari praktek politicking? Bersih dalam arti benar-benar bersih tanpa noda, mungkin itu butuh proses panjang. Yang mendesak adalah melakukan perbaikan bertahap (keizen) dari kesadaran-diri.
Pertanyaannya, kesadaran seperti apa yang penting di sini? Salah satunya adalah kesadaran menggeser motif, dari yang negatif (minus) ke yang positif (plus). Memang, seperti kata Spencer (1993), motif itulah yang sering sanggup menyeleksi tindakan kita, apakah kita akan menggunakan politicking atau empowering.
Motif sendiri adalah dorongan (need or desire) yang membuat orang melakukan sesuatu (Merriam Webster̢۪s). Motif di sini netral sifatnya, bisa negatif dan bisa positif, tergantung kitanya. Kalau mengacu ke konsepnya Zohar dan Marshall (2004), ada sejumlah motif negatif yang perlu kita geser agar tidak selalu menggunakan politicking dalam meraih kesuksesan.
Pertama, penonjolan diri (riya). Ini negatif. Kalau kita mengejar kesuksesan karena motif supaya bisa menonjolkan diri, lama-lama politicking. Supaya tidak kebablasan, perlu kita geser ke eksplorasi diri. Artinya, kita mengejar kesuksesan dengan motif untuk mengeksplosi potensi kita dan potensi orang lain (by empowering).
Kedua, kemarahan (reaksi negatif). Jika kita mengejar kesuksesan karena dendam dan marah oleh perilaku orang yang lebih kaya, lama-lama kita melihat manusia sebagai musuh atau lawan. Ini yang pernah menimbulkan penjarahan tahun 1998 lalu. Lebih baik kita geser ke motif untuk bekerjasama atau membangun kemitraan yang sinergis dan beradab.
Ketiga, keserakahan. Motif negatif ini timbul karena kita mengalami kekosongan nilai-nilai spiritual. Serakah akan memudahkan kita melakukan politicking. Sampai pun kita sudah kaya, tetap saja ingin memiskinkan orang lain atau merasa kurang. Akan lebih bagus bila kita ganti dengan motif untuk membangun kekuatan diri dari dalam, misalnya dengan menjadi orang yang lebih berwawasan spiritual.
Keempat, rasa takut. Takut digeser, takut tidak dipromosikan, takut tidak diperpanjang kontrak, takut dibilang tidak kaya, dll, akan memudahkan kita bermain politicking. Lebih bagus itu kita kendalikan lalu kita geser ke motif untuk membangun keahlian, baik mental, teknis, atau profesional. Pasti hasilnya lebih OK.
Kelima, keresahan. Jika motif negatif ini terus menguasai kita, lama-lama kita politicking. Kita merasa sudah buntu untuk memilih cara-cara hidup yang positif. Akan lebih bagus segera kita geser ke motif untuk memunculkan kreativitas sehingga pikiran kita tidak buntu. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan, yang bisa membuat hidup kita lebih OK, asal kreatif.
Keenam, apati. Apati di tempat kerja akan membuat kita masa bodoh terhadap kepentingan dan kemaslahatan orang banyak / organisasi sehingga membuat kita gampang ber-politicking. Akan bagus bila segera kita geser ke motif pengabdian, misalnya kita bekerja untuk aktualisasi diri, ibadah, berperan bagi orang lain, dan seterusnya.
Ketujuh, malu dan rasa bersalah. Motif ini timbul karena kita merasa tak bermakna apa-apa bagi diri sendiri dan orang banyak sehingga memudahkan kita melakukan politicking. Supaya tidak berlanjut, segera kita ganti dengan memunculkan berbagai motif positif yang dapat membuat hidup kita bermakna bagi diri sendiri dan orang lain.
Kedelapan, depersonalisasi. Ini timbul karena kita sudah mengabaikan berbagai pegangan hidup sehingga tidak ada lagi koordinasi antara hati, ucapan, keinginan, dan tindakan. Kita sudah ngawur, benar-benar memainkan politicking yang kotor. Karena itu, segera kita ganti dengan memunculkan motif untuk menemukan pencerahan dari berbagai sumber.
Kehendak, Konsistensi, Dan Lokasi
Syarat mutlak untuk bisa menggeser motif itu adalah kehendak (the will) dan meyakini bahwa segalanya lahir dari kehendak. Kenapa ini penting? Banyak orang yang gagal menggeser motif karena yang dijadikan syarat untuk berubah bukan kehendak, melainkan kenyataan.
Dalam prakteknya, pasti tidak ada kesimpulan yang tunggal: apakah kenyataan yang menciptakan kita atau kita yang menciptakan kenyataan. Pasti dua-duanya saling berdialog. Hanya, jika kita ingin berubah, kita harus memilih kesimpulan bahwa kitalah yang menciptakan kenyataan. Ini hanya strategi mental saja.
Selain kehendak, yang perlu kita perhatikan lagi adalah tingkat konsistensi. Kalau anak-anak, jam ini dia baik, tetapi sejam kemudian dia berubah, ini masih wajar dan belum menjadi ukuran. Tapi kalau orang dewasa, ini menjadi ukuran penting dari sebuah hasil (kinerja).
Artinya, bergesernya motif dari minus ke plus itu baru akan memberikan hasil yang berbeda apabila kita melakukannya dengan konsistensi yang tinggi. Untuk bisa memiliki konsistensi yang tinggi, syaratnya adalah kembali pada keyakinan di atas: kehendaklah yang menciptakan kenyataan (internal locus of control), bukan sebaliknya.
Nah, karena kita manusia, bukan malaikat, maka kita tetap membutuhkan dukungan dari faktor eksternal. Kalau kita beraktivitas di lingkungan yang tingkat politicking-nya tinggi, memang ini lebih sulit untuk membersihkan diri dari berbagai motif politicking. Karena itu, kita butuh lokasi, area industri, dan komunitas yang mendukung.
Namun, satu hal yang perlu kita ingat bahwa dukungan faktor eksternal itu bisa menyusul sifatnya. Bahkan dalam prakteknya, ia lebih sering datang sendiri setelah ada kehendak yang kuat dan konsistensi yang tinggi. Kalau kita ingin menjadi baik, tapi yang kita cari orang lain yang baik lebih dulu, ini biasanya susah. Akan lebih mudah kalau kita menjadi orang baik lebih dulu.
Tiada yang mutlak
Patokan apapun yang kita jadikan ukuran kesuksesan itu, mau kekayaaan, kekuasaan, kehebatan, atau apapun, hendaknya tetap kita pahami sebagai sebuah potensi atau ujian yang bisa menaikkan derajat kita dan bisa menurunkannya, tergantung the way we use. Selain itu, perlu kita pahami juga sebatas sebagai kenisbian, yang merupakan sifat kita, bukan sebagai kemutlakaan. Tidak bisa kita mengatakan kekayaan harta itu tidak penting, yang penting adalah ketakwaan. Ini sifat malaikat. Sama juga tidak bisa kita mengatakan harta kekayaan itu segala-galanya bagi ukuran kesuksesan kita. Ini sifat setan yang memutlakkan materi. Semoga bermanfaat.
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 19 Januari 2009
The Way We Use
e-psikologi.com
Mungkin sah-sah saja kalau banyak orang yang mengartikan kesuksesan dengan pencapaian materi dengan berbagai simbol dan representasinya. Sah karena memang faktanya materi termasuk variabel utama bagi kelangsungan hidup kita. Kata orang, uang atau materi memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya butuh uang.
Dikatakan sah juga karena memang tidak ada alasan hukum untuk menyalahkannya. Yang bisa mengatakan itu pas atau kurang pasnya bukan alasan hukum, namun perkembangan peradaban dan nalar-spiritual masyarakat. Mungkin suatu saat masyarakat kita tidak lagi menjadikan pencapaian materi sebagai ukuran tunggal kesuksesan.
Harta dengan berbagai simbol dan representasinya itu sebetulnya bukanlah makhluk yang a-spiritual. Tuhan sendiri menyebutnya sebagai alat untuk kebaikan. Yang selalu diingatkan adalah cara mendapatkannya, cara memahaminya, dan cara penggunaannya. Jadi, intinya bukan pada materinya dan berbagai simbolnya itu, melainkan lebih pada the way we use.
Mengaudit Cara Mendapatkan
Selain ada dua cara yang sudah sama-sama kita ketahui dalam mendapatkan kesukesan, yaitu cara benar dan cara menyimpang, ada lagi cara-cara yang mungkin perlu kita audit. Ini mumpung masih dalam suasana tahun baru. Mudah-mudahan dengan inisiatif ini, kualitas hidup kita menjadi semakin lebih baik.
Pertama, apakah kesuksesan itu kita dapatkan dengan cara-cara yang juga ikut mensukseskan orang lain? Apakah selama ini kesuksesan itu kita dapatkan dengan cara mengoptimalkan penggunaan potensi / kompetensi pribadi dan orang lain? Apakah kita sudah menggunakan cara-cara "empowering"?
Kalau cara itu yang sudah sering kita lakukan, berarti kita sudah berada di track yang tepat. Tugas kita adalah mempertahankan dan meningkatkan. Pesan yang perlu kita ingat adalah: "even the best, it must be improved", meski sudah baik namun harus tetap diperbaiki.
Kedua, apakah kesuksesan itu kita dapatkan dari pemberian atau penganugerahan, by being inaugurated / given? Misalnya, orangtua kita mewariskan berbagai aset dan pengaruh yang cukup besar sehingga kita merasa kesuksesan kita itu bukan karena kompetensi, tetapi karena legacy (warisan).
Atau juga misalnya kita bekerja di perusahaan besar, mapan, dan punya nama. Dengan berbagai peranan yang diberikan kepada kita lalu kita merasa kesuksesan yang kita dapatkan itu sebetulnya adalah semu. Maksudnya, yang lebih berperan di situ bukan kompetensi kita sebagai pribadi, tetapi pengaruh organisasi.
Jika perasaan itu yang sering muncul, yang tepat untuk kita lakukan adalah bersyukur. Dalam "ilmu Tuhan" tidak ada kebetulan yang sifatnya benar-benar kebetulan. Kita menjadi anak orang hebat itu bukan kebetulan. Kita bekerja di perusahaan mapan itu bukan kebetulan. Semua terjadi karena ada alasan dan tujuan.
Cuma, yang perlu kita audit adalah skala kesyukuran kita. Skala yang paling tinggi adalah ketika kita mampu menggunakan resource dan potensi yang ada untuk mencapai tujuan yang selalu lebih besar, lebih tinggi dan lebih positif dengan cara-cara yang positif. Skala yang paling rendah adalah ketika kita hanya mampu bersyukur dengan mulut dan kata-kata.
Ketiga, apakah kesuksesan itu selama ini kita dapatkan dengan cara-cara memperdaya orang lain dan keadaan, by politicking? Di rubrik Surat Pembaca koran ibukota, sering saya membaca curhat beberapa pelajar senior kita yang ada di luar negeri. Mereka dilematis.
Satu sisi, mereka dipanggil-panggil oleh nasionalisme-nya untuk kembali ke Indonesia, menerapkan ilmunya di sini. Tapi di sisi lain, mereka takut. Kesuksesan (pencapaian materi) di sini kerap tidak berbanding lurus dengan kompetensi. Banyak orang yang bisa meraih kekayaan karena kecanggihannya dalam bermain politicking, bukan karena empowering atau actualizing.
Tradisi politicking di kita memang sudah cukup gila, dari mulai KKN, suap tender, penyalahgunaan kekuasaan, dll. Bahkan sudah mau hampir terbangun keyakinan kolektif bahwa tanpa politicking, rasa-rasanya susah kita men - down load kesuksesan dengan cepat dan mudah.
Menggeser Motif
Yang benar-benar perlu kita audit adalah poin nomor tiga itu. Apa bisa kita bersih dari praktek politicking? Bersih dalam arti benar-benar bersih tanpa noda, mungkin itu butuh proses panjang. Yang mendesak adalah melakukan perbaikan bertahap (keizen) dari kesadaran-diri.
Pertanyaannya, kesadaran seperti apa yang penting di sini? Salah satunya adalah kesadaran menggeser motif, dari yang negatif (minus) ke yang positif (plus). Memang, seperti kata Spencer (1993), motif itulah yang sering sanggup menyeleksi tindakan kita, apakah kita akan menggunakan politicking atau empowering.
Motif sendiri adalah dorongan (need or desire) yang membuat orang melakukan sesuatu (Merriam Webster̢۪s). Motif di sini netral sifatnya, bisa negatif dan bisa positif, tergantung kitanya. Kalau mengacu ke konsepnya Zohar dan Marshall (2004), ada sejumlah motif negatif yang perlu kita geser agar tidak selalu menggunakan politicking dalam meraih kesuksesan.
Pertama, penonjolan diri (riya). Ini negatif. Kalau kita mengejar kesuksesan karena motif supaya bisa menonjolkan diri, lama-lama politicking. Supaya tidak kebablasan, perlu kita geser ke eksplorasi diri. Artinya, kita mengejar kesuksesan dengan motif untuk mengeksplosi potensi kita dan potensi orang lain (by empowering).
Kedua, kemarahan (reaksi negatif). Jika kita mengejar kesuksesan karena dendam dan marah oleh perilaku orang yang lebih kaya, lama-lama kita melihat manusia sebagai musuh atau lawan. Ini yang pernah menimbulkan penjarahan tahun 1998 lalu. Lebih baik kita geser ke motif untuk bekerjasama atau membangun kemitraan yang sinergis dan beradab.
Ketiga, keserakahan. Motif negatif ini timbul karena kita mengalami kekosongan nilai-nilai spiritual. Serakah akan memudahkan kita melakukan politicking. Sampai pun kita sudah kaya, tetap saja ingin memiskinkan orang lain atau merasa kurang. Akan lebih bagus bila kita ganti dengan motif untuk membangun kekuatan diri dari dalam, misalnya dengan menjadi orang yang lebih berwawasan spiritual.
Keempat, rasa takut. Takut digeser, takut tidak dipromosikan, takut tidak diperpanjang kontrak, takut dibilang tidak kaya, dll, akan memudahkan kita bermain politicking. Lebih bagus itu kita kendalikan lalu kita geser ke motif untuk membangun keahlian, baik mental, teknis, atau profesional. Pasti hasilnya lebih OK.
Kelima, keresahan. Jika motif negatif ini terus menguasai kita, lama-lama kita politicking. Kita merasa sudah buntu untuk memilih cara-cara hidup yang positif. Akan lebih bagus segera kita geser ke motif untuk memunculkan kreativitas sehingga pikiran kita tidak buntu. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan, yang bisa membuat hidup kita lebih OK, asal kreatif.
Keenam, apati. Apati di tempat kerja akan membuat kita masa bodoh terhadap kepentingan dan kemaslahatan orang banyak / organisasi sehingga membuat kita gampang ber-politicking. Akan bagus bila segera kita geser ke motif pengabdian, misalnya kita bekerja untuk aktualisasi diri, ibadah, berperan bagi orang lain, dan seterusnya.
Ketujuh, malu dan rasa bersalah. Motif ini timbul karena kita merasa tak bermakna apa-apa bagi diri sendiri dan orang banyak sehingga memudahkan kita melakukan politicking. Supaya tidak berlanjut, segera kita ganti dengan memunculkan berbagai motif positif yang dapat membuat hidup kita bermakna bagi diri sendiri dan orang lain.
Kedelapan, depersonalisasi. Ini timbul karena kita sudah mengabaikan berbagai pegangan hidup sehingga tidak ada lagi koordinasi antara hati, ucapan, keinginan, dan tindakan. Kita sudah ngawur, benar-benar memainkan politicking yang kotor. Karena itu, segera kita ganti dengan memunculkan motif untuk menemukan pencerahan dari berbagai sumber.
Kehendak, Konsistensi, Dan Lokasi
Syarat mutlak untuk bisa menggeser motif itu adalah kehendak (the will) dan meyakini bahwa segalanya lahir dari kehendak. Kenapa ini penting? Banyak orang yang gagal menggeser motif karena yang dijadikan syarat untuk berubah bukan kehendak, melainkan kenyataan.
Dalam prakteknya, pasti tidak ada kesimpulan yang tunggal: apakah kenyataan yang menciptakan kita atau kita yang menciptakan kenyataan. Pasti dua-duanya saling berdialog. Hanya, jika kita ingin berubah, kita harus memilih kesimpulan bahwa kitalah yang menciptakan kenyataan. Ini hanya strategi mental saja.
Selain kehendak, yang perlu kita perhatikan lagi adalah tingkat konsistensi. Kalau anak-anak, jam ini dia baik, tetapi sejam kemudian dia berubah, ini masih wajar dan belum menjadi ukuran. Tapi kalau orang dewasa, ini menjadi ukuran penting dari sebuah hasil (kinerja).
Artinya, bergesernya motif dari minus ke plus itu baru akan memberikan hasil yang berbeda apabila kita melakukannya dengan konsistensi yang tinggi. Untuk bisa memiliki konsistensi yang tinggi, syaratnya adalah kembali pada keyakinan di atas: kehendaklah yang menciptakan kenyataan (internal locus of control), bukan sebaliknya.
Nah, karena kita manusia, bukan malaikat, maka kita tetap membutuhkan dukungan dari faktor eksternal. Kalau kita beraktivitas di lingkungan yang tingkat politicking-nya tinggi, memang ini lebih sulit untuk membersihkan diri dari berbagai motif politicking. Karena itu, kita butuh lokasi, area industri, dan komunitas yang mendukung.
Namun, satu hal yang perlu kita ingat bahwa dukungan faktor eksternal itu bisa menyusul sifatnya. Bahkan dalam prakteknya, ia lebih sering datang sendiri setelah ada kehendak yang kuat dan konsistensi yang tinggi. Kalau kita ingin menjadi baik, tapi yang kita cari orang lain yang baik lebih dulu, ini biasanya susah. Akan lebih mudah kalau kita menjadi orang baik lebih dulu.
Tiada yang mutlak
Patokan apapun yang kita jadikan ukuran kesuksesan itu, mau kekayaaan, kekuasaan, kehebatan, atau apapun, hendaknya tetap kita pahami sebagai sebuah potensi atau ujian yang bisa menaikkan derajat kita dan bisa menurunkannya, tergantung the way we use. Selain itu, perlu kita pahami juga sebatas sebagai kenisbian, yang merupakan sifat kita, bukan sebagai kemutlakaan. Tidak bisa kita mengatakan kekayaan harta itu tidak penting, yang penting adalah ketakwaan. Ini sifat malaikat. Sama juga tidak bisa kita mengatakan harta kekayaan itu segala-galanya bagi ukuran kesuksesan kita. Ini sifat setan yang memutlakkan materi. Semoga bermanfaat.
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 19 Januari 2009
The Way We Use
e-psikologi.com
3 Resiko Investasi yang Paling Ditakuti
"Beranikah saya mengambil risiko dalam berinvestasi?" Pertanyaan ini mungkin sering terlontar bila Anda sedang menimbang-nimbang untuk melakukan investasi. Katakan Anda punya uang Rp 10 juta, dan Anda bingung apakah akan menaruhnya di bank atau di tempat lain. Kalau ditaruh di bank, Anda mungkin merasa aman. Tetapi kadang-kadang, tawaran investasi di tempat lain seringkali cukup besar dan sangat menggoda, sehingga ini kadang-kadang menakutkan Anda.
Yang namanya investasi pasti ada risikonya. Nah, dari pengalaman saya selama ini, biasanya hanya ada tiga (3) risiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka berinvestasi:
1. Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah uang saya akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau ditanya seperti itu. Iyalah, mana ada, sih orang yang mau kehilangan uangnya? Akan tetapi, masalahnya, yang namanya risiko pasti ada dalam setiap investasi. Hanya bedanya adalah di ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Itu mungkin butuh pembahasan yang khusus di NOVA nomor-nomor mendatang. Yang jelas, satu hal yang paling ditakuti orang, sekali lagi adalah: "Apakah uang saya akan hilang?"
Oke, sekarang kalau Anda berinvestasi, seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 30 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang bersedia Anda tanggung, ingatlah, itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang namanya kerugian, sesekali memang harus dialami. Kalau enggak mengalami, ya enggak belajar, kan?
2. Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
Risiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual kembali. Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang kertasnya robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang Koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak selalu mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan buat orang yang menjualnya.
Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.
3. Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Bayangkan kalau Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai.
Iya dong, beberapa dari Anda mungkin menginginkan produk investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa. Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin Anda belum tahu, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang.
Selamat berinvestasi!
Artikel: Dasar-dasar Keuangan
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 746/XIV
Yang namanya investasi pasti ada risikonya. Nah, dari pengalaman saya selama ini, biasanya hanya ada tiga (3) risiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka berinvestasi:
1. Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah "Apakah uang saya akan hilang?" Kebanyakan orang mungkin menjawab "tidak" kalau ditanya seperti itu. Iyalah, mana ada, sih orang yang mau kehilangan uangnya? Akan tetapi, masalahnya, yang namanya risiko pasti ada dalam setiap investasi. Hanya bedanya adalah di ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Itu mungkin butuh pembahasan yang khusus di NOVA nomor-nomor mendatang. Yang jelas, satu hal yang paling ditakuti orang, sekali lagi adalah: "Apakah uang saya akan hilang?"
Oke, sekarang kalau Anda berinvestasi, seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 30 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang bersedia Anda tanggung, ingatlah, itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang namanya kerugian, sesekali memang harus dialami. Kalau enggak mengalami, ya enggak belajar, kan?
2. Sulitnya Produk Investasi itu Dijual
Risiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual kembali. Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang kertasnya robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang Koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak selalu mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan buat orang yang menjualnya.
Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.
3. Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Bayangkan kalau Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai.
Iya dong, beberapa dari Anda mungkin menginginkan produk investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa. Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin Anda belum tahu, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang.
Selamat berinvestasi!
Artikel: Dasar-dasar Keuangan
Oleh: Safir Senduk
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 746/XIV
Lakukan Mitigasi Resiko, Sekarang !
Artikel: Dasar-dasar Keuangan
Langkah-langkah Mengantisipasi Risiko
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 639/XIII, Safir Senduk
Risiko adalah segala hal yang bisa terjadi pada diri manusia yang tidak diinginkan untuk terjadi. Setiap manusia memiliki risiko atas apa pun yang dia lakukan. Selain itu, hidup manusia sendiri juga mengandung banyak risiko.
Ada beberapa risiko yang bisa dihindari, dan ada beberapa risiko yang tidak bisa dihindari. Contoh dari risiko yang bisa dihindari adalah risiko kecelakaan atau risiko kecurian. Sedangkan contoh dari risiko yang tidak bisa dihindari adalah risiko kematian.
Efek dari risiko sering kali menimbulkan kerugian yang cukup besar. Entah kerugian dari sisi psikologis, maupun kerugian dari sisi keuangan. Kalau rumah Anda mengalami musibah kebakaran, maka Anda akan mengalami kerugian keuangan yang besarnya setara dengan nilai rumah Anda pada saat kebakaran itu terjadi. Karena itu, penting sekali bagi Anda untuk mengantisipasi setiap risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda.
TAK MESTI ASURANSI
Mendengar kata antisipasi risiko, pikiran Anda mungkin langsung terbawa ke istilah "asuransi". Dalam ilmu perencanaan keuangan, maksud dari asuransi adalah untuk melindungi (memproteksi) Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya suatu risiko. Sebagai contoh, Anda mungkin tidak bisa menghindar dari risiko kecelakaan pada diri Anda, tetapi Anda bisa memproteksi diri Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya kecelakaan tersebut.
Apakah semua risiko yang bisa terjadi pada Anda perlu diasuransikan? Jawabnya tidak. Sebagai contoh, sepatu yang sering Anda pakai punya kemungkinan untuk hilang dicuri. Tapi apa iya Anda akan mengasuransikan sepatu Anda? Besar kemungkinan tidak. Kenapa? Ini karena apabila sepatu Anda hilang, jumlah kerugian Anda mungkin tidak seberapa.
Lain halnya bila rumah Anda mengalami kebakaran, maka kerugian keuangan yang mungkin timbul bisa besar sekali. Itu sebabnya, Anda perlu mengambil asuransi kebakaran untuk rumah Anda.
Pilihan untuk mengantisipasi risiko-risiko tersebut, disebut dengan Manajemen Risiko. Untuk mudahnya, saya sebut saja ini sebagai antisipasi risiko. Dalam tulisan kali ini, saya akan menunjukkan bagaimana Anda bisa mengantisipasi risiko-risiko yang bisa terjadi pada diri Anda.
BERBAGAI PILIHAN
Kerugian keuangan bisa terjadi bila Anda mengalami kematian, kecelakaan, sakit, atau bila barang milik Anda hilang atau rusak. Kadang-kadang, kerugian keuangan juga bisa terjadi bila Anda mengalami tuntutan hukum dari pihak ketiga, semisal saat Anda menabrak orang lain hingga terluka dan Anda diharuskan untuk mengganti semua biaya pengobatannya.
Sekarang, pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko? Kita anggap saja Anda diharuskan oleh bos Anda (atau siapa saja) untuk membawa sebuah paket dengan memakai kendaraan, dari kota A ke kota B. Namun demikian, keadaan jalanan yang ramai membuat Anda terancam mengalami risiko kecelakaan. Karena itu, ada sejumlah pilihan bagi Anda untuk mengantisipasi risiko tersebut:
1.Menghindari Rrisiko. Anda bisa menghindar dari risiko kecelakaan tersebut. Caranya, jangan menyetir. Tetapi konsekuensinya, paket Anda tidak akan terkirim.
2.Menghadapi Risiko. Anda bisa menyetir dan membawa paket tersebut seperti biasa tanpa perlu berhati-hati, dan Anda menerima konsekuensinya apabila risiko kecelakaan tersebut benar terjadi.
3.Mengurangi Risiko. Anda menyetir dan membawa paket tersebut, tetapi berhati-hati dalam menyetir. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat dikurangi.
4.Membagi Risiko. Paket yang harus Anda bawa dibagi dua dengan teman Anda. Dia membawa sebagian paket tersebut dalam kendaraan yang berbeda, begitu juga Anda.
5.Transfer Risiko. Anda minta kepada teman Anda yang membawakan seluruh paket tersebut.
Nah, sekarang kita coba praktekkan teori antisipasi risiko tersebut. Kita misalkan saja Anda ingin membeli rumah, tapi seperti rumah yang lain pada umumnya, rumah yang akan Anda beli memiliki risiko kebakaran. Untuk mengantisipasinya, maka pilihan-pilihan yang tersedia bagi Anda adalah:
1.Mengontrak rumah saja, tidak usah membeli (menghindari risiko).
2.Membeli rumah, dan menghadapi saja risiko tersebut, di mana Anda berharap agar risiko kebakaran tersebut tidak usah terjadi (menghadapi risiko).
3.Menyediakan tabung pemadam kebakaran di rumah Anda (mengurangi risiko).
4.Menyerahkan sebagian kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (bagi risiko).
5.Menyerahkan seluruh kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (transfer risiko).
Pilihan keempat dan kelima diatas itulah yang kita kenal dengan asuransi. Artinya, asuransi bisa menjadi pihak yang Anda serahi kerugian apabila Anda mengalami suatu risiko.
MENGAMBIL KEPUTUSAN
Setelah Anda mengetahui pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko, maka langkah Anda selanjutnya adalah dengan menulis risiko-risiko apa saja yang mungkin terjadi pada Anda, serta pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasinya. Di bawah ini adalah langkah-langkahnya:
1.Kenali risiko Anda
2.Evaluasi akibatnya apabila risiko itu terjadi.
3.Ambil keputusan tentang pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasi risiko tersebut
Sebagai contoh, risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda adalah kematian, kecelakaan, sakit, musibah atas kendaraan, musibah atas mobil, PHK, dan tidak bisa bekerja. Karena itu, langkah-langkahnya adalah:
1.Kenali risiko Anda: Kematian.
2.Evaluasi akibatnya: Biaya hidup keluarga yang Anda tinggalkan tidak akan terbayar.
3.Ambil keputusan:
•Menghindari Risiko: Dalam hal ini tidak mungkin menghindari risiko kematian.
•Menghadapi Risiko: Bisa saja, dengan konsekuensi bahwa biaya hidup keluarga tidak akan terbayar
•Mengurangi Risiko: Risiko kematian tidak bisa dikurangi
•Bagi risiko: Menyerahkan sebagian pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia
•Transfer risiko: Menyerahkan seluruh pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia.
Terserah pada Anda, putusan mana yang hendak diambil.
Setelah Anda mengambil keputusan untuk satu risiko, maka ulangi langkah tersebut untuk risiko yang berikutnya (semisal kecelakaan). Begitu seterusnya. Maka sekarang Anda sudah memiliki program antisipasi risiko untuk keluarga Anda.
Langkah-langkah Mengantisipasi Risiko
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 639/XIII, Safir Senduk
Risiko adalah segala hal yang bisa terjadi pada diri manusia yang tidak diinginkan untuk terjadi. Setiap manusia memiliki risiko atas apa pun yang dia lakukan. Selain itu, hidup manusia sendiri juga mengandung banyak risiko.
Ada beberapa risiko yang bisa dihindari, dan ada beberapa risiko yang tidak bisa dihindari. Contoh dari risiko yang bisa dihindari adalah risiko kecelakaan atau risiko kecurian. Sedangkan contoh dari risiko yang tidak bisa dihindari adalah risiko kematian.
Efek dari risiko sering kali menimbulkan kerugian yang cukup besar. Entah kerugian dari sisi psikologis, maupun kerugian dari sisi keuangan. Kalau rumah Anda mengalami musibah kebakaran, maka Anda akan mengalami kerugian keuangan yang besarnya setara dengan nilai rumah Anda pada saat kebakaran itu terjadi. Karena itu, penting sekali bagi Anda untuk mengantisipasi setiap risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda.
TAK MESTI ASURANSI
Mendengar kata antisipasi risiko, pikiran Anda mungkin langsung terbawa ke istilah "asuransi". Dalam ilmu perencanaan keuangan, maksud dari asuransi adalah untuk melindungi (memproteksi) Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya suatu risiko. Sebagai contoh, Anda mungkin tidak bisa menghindar dari risiko kecelakaan pada diri Anda, tetapi Anda bisa memproteksi diri Anda dari kerugian keuangan yang mungkin timbul dari terjadinya kecelakaan tersebut.
Apakah semua risiko yang bisa terjadi pada Anda perlu diasuransikan? Jawabnya tidak. Sebagai contoh, sepatu yang sering Anda pakai punya kemungkinan untuk hilang dicuri. Tapi apa iya Anda akan mengasuransikan sepatu Anda? Besar kemungkinan tidak. Kenapa? Ini karena apabila sepatu Anda hilang, jumlah kerugian Anda mungkin tidak seberapa.
Lain halnya bila rumah Anda mengalami kebakaran, maka kerugian keuangan yang mungkin timbul bisa besar sekali. Itu sebabnya, Anda perlu mengambil asuransi kebakaran untuk rumah Anda.
Pilihan untuk mengantisipasi risiko-risiko tersebut, disebut dengan Manajemen Risiko. Untuk mudahnya, saya sebut saja ini sebagai antisipasi risiko. Dalam tulisan kali ini, saya akan menunjukkan bagaimana Anda bisa mengantisipasi risiko-risiko yang bisa terjadi pada diri Anda.
BERBAGAI PILIHAN
Kerugian keuangan bisa terjadi bila Anda mengalami kematian, kecelakaan, sakit, atau bila barang milik Anda hilang atau rusak. Kadang-kadang, kerugian keuangan juga bisa terjadi bila Anda mengalami tuntutan hukum dari pihak ketiga, semisal saat Anda menabrak orang lain hingga terluka dan Anda diharuskan untuk mengganti semua biaya pengobatannya.
Sekarang, pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko? Kita anggap saja Anda diharuskan oleh bos Anda (atau siapa saja) untuk membawa sebuah paket dengan memakai kendaraan, dari kota A ke kota B. Namun demikian, keadaan jalanan yang ramai membuat Anda terancam mengalami risiko kecelakaan. Karena itu, ada sejumlah pilihan bagi Anda untuk mengantisipasi risiko tersebut:
1.Menghindari Rrisiko. Anda bisa menghindar dari risiko kecelakaan tersebut. Caranya, jangan menyetir. Tetapi konsekuensinya, paket Anda tidak akan terkirim.
2.Menghadapi Risiko. Anda bisa menyetir dan membawa paket tersebut seperti biasa tanpa perlu berhati-hati, dan Anda menerima konsekuensinya apabila risiko kecelakaan tersebut benar terjadi.
3.Mengurangi Risiko. Anda menyetir dan membawa paket tersebut, tetapi berhati-hati dalam menyetir. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat dikurangi.
4.Membagi Risiko. Paket yang harus Anda bawa dibagi dua dengan teman Anda. Dia membawa sebagian paket tersebut dalam kendaraan yang berbeda, begitu juga Anda.
5.Transfer Risiko. Anda minta kepada teman Anda yang membawakan seluruh paket tersebut.
Nah, sekarang kita coba praktekkan teori antisipasi risiko tersebut. Kita misalkan saja Anda ingin membeli rumah, tapi seperti rumah yang lain pada umumnya, rumah yang akan Anda beli memiliki risiko kebakaran. Untuk mengantisipasinya, maka pilihan-pilihan yang tersedia bagi Anda adalah:
1.Mengontrak rumah saja, tidak usah membeli (menghindari risiko).
2.Membeli rumah, dan menghadapi saja risiko tersebut, di mana Anda berharap agar risiko kebakaran tersebut tidak usah terjadi (menghadapi risiko).
3.Menyediakan tabung pemadam kebakaran di rumah Anda (mengurangi risiko).
4.Menyerahkan sebagian kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (bagi risiko).
5.Menyerahkan seluruh kerugian pada pihak lain apabila rumah Anda mengalami kebakaran (transfer risiko).
Pilihan keempat dan kelima diatas itulah yang kita kenal dengan asuransi. Artinya, asuransi bisa menjadi pihak yang Anda serahi kerugian apabila Anda mengalami suatu risiko.
MENGAMBIL KEPUTUSAN
Setelah Anda mengetahui pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi Anda untuk mengantisipasi risiko, maka langkah Anda selanjutnya adalah dengan menulis risiko-risiko apa saja yang mungkin terjadi pada Anda, serta pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasinya. Di bawah ini adalah langkah-langkahnya:
1.Kenali risiko Anda
2.Evaluasi akibatnya apabila risiko itu terjadi.
3.Ambil keputusan tentang pilihan apa yang akan Anda gunakan untuk mengantisipasi risiko tersebut
Sebagai contoh, risiko yang mungkin terjadi pada diri Anda adalah kematian, kecelakaan, sakit, musibah atas kendaraan, musibah atas mobil, PHK, dan tidak bisa bekerja. Karena itu, langkah-langkahnya adalah:
1.Kenali risiko Anda: Kematian.
2.Evaluasi akibatnya: Biaya hidup keluarga yang Anda tinggalkan tidak akan terbayar.
3.Ambil keputusan:
•Menghindari Risiko: Dalam hal ini tidak mungkin menghindari risiko kematian.
•Menghadapi Risiko: Bisa saja, dengan konsekuensi bahwa biaya hidup keluarga tidak akan terbayar
•Mengurangi Risiko: Risiko kematian tidak bisa dikurangi
•Bagi risiko: Menyerahkan sebagian pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia
•Transfer risiko: Menyerahkan seluruh pembiayaan hidup keluarga Anda pada pihak lain apabila Anda meninggal dunia.
Terserah pada Anda, putusan mana yang hendak diambil.
Setelah Anda mengambil keputusan untuk satu risiko, maka ulangi langkah tersebut untuk risiko yang berikutnya (semisal kecelakaan). Begitu seterusnya. Maka sekarang Anda sudah memiliki program antisipasi risiko untuk keluarga Anda.
Sunday, November 21, 2010
Motivasi Besar Meninggalkan Zona Aman
Motivasi dan mengajak mengarungi dunia bisnis kepada orang lain bukan suatu perkara mudah. Apalagi orang yang kita ajak tak pernah tertarik dengan dunia bisnis karena khawatir dengan resikonya yang besar.Ditambah pula alasan belum memiliki modal yang cukup untuk memulai usaha.
Mengubah pola pikir orang-orang seperti di Indonesia yang lebih senang bekerja disebuah instansi atau menjadi pegawai untuk berpindah menekuni bisnis tak semudah membalikkan telapak tangan. Pokoknya ada 1001 alasan yang dikemukakan untuk menyatakan bahwa bekerja pada orang lain atau sebuah instansi akan lebih aman ketimbang berbisnis.
Jika diibaratkan, hal itu seperti melihat fenomena koloni kepiting, Binantang yang hidup dilaut ini jika ditaruh dalam sebuah keranjang biasanya enggan bergerak keluar.Bila ada seekor kepiting yang merayap berusaha untuk keluar, biasanya teman-temannya akan menariknya sehingga jatuh masuk ke tempat semula, namun jika ada seekor kepiting yang berhasil keluar dari tempat koloninya, maka langsung saja kepiting yang lainnya berbondong-bondong mengikuti dengan jalan yang sama. Begitulah gambaran untuk mengajak orang berbisnis, biasanya orang disekitar mereka yang menjadi penghambat terbesar.Begitu dia sukses maka orang disekitarnya berduyung-duyung mengikutinya.
Sudah banyak terbukti dengan berbisnis bisa mendatangkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup, bahkan ada yang mendapatkan keuntungan besar, Syaratnya harus segera dirintis secara serius, dilakoni dengan tekun, dan menjalankan starategi yang benar untuk menjaring pangsa pasar, selain itu tabah menghadapi rintangan, termasuk resiko terbesar berupa kebangkrutan.
Seperti itulah hukum bisnis yang dipahami, Dimana ada peluang akan mendapatkan keuntungan besar, disitu pula tersimpan risiko yang besar.Bagi orang yang berpikir positif dan kreatif, resiko akan dianggap sebagai sebuah tantangan, mereka biasanya bahkan berfikir terbalik, dimana ada resiko besar biasanya tersimpan potensi keuntungan yang besar pula, mereka tak menganggap berani berbisnis berarti berani rugi, sebaliknya berani berbisnis berarti berani mendapatkan untung.
Sebaliknya orang yang pesimistis akan menilai risiko sebagai penghalang yang tak bisa dilalui. Biasanya mereka akan memilih sebagai safety player, dengan menerima penghasilan yang sudah tertakar.Bukan pilihan yang salah, karena ini tidak terkait dengan salah dan benar, ini hanya soal keputusan memilih jalan hidup, mau seperti kepiting yang didalam keranjang atau bergerak bebas, jadi untuk berbisnis dibutuhkan motivasi besar meninggalkan zona aman.
Mengubah pola pikir orang-orang seperti di Indonesia yang lebih senang bekerja disebuah instansi atau menjadi pegawai untuk berpindah menekuni bisnis tak semudah membalikkan telapak tangan. Pokoknya ada 1001 alasan yang dikemukakan untuk menyatakan bahwa bekerja pada orang lain atau sebuah instansi akan lebih aman ketimbang berbisnis.
Jika diibaratkan, hal itu seperti melihat fenomena koloni kepiting, Binantang yang hidup dilaut ini jika ditaruh dalam sebuah keranjang biasanya enggan bergerak keluar.Bila ada seekor kepiting yang merayap berusaha untuk keluar, biasanya teman-temannya akan menariknya sehingga jatuh masuk ke tempat semula, namun jika ada seekor kepiting yang berhasil keluar dari tempat koloninya, maka langsung saja kepiting yang lainnya berbondong-bondong mengikuti dengan jalan yang sama. Begitulah gambaran untuk mengajak orang berbisnis, biasanya orang disekitar mereka yang menjadi penghambat terbesar.Begitu dia sukses maka orang disekitarnya berduyung-duyung mengikutinya.
Sudah banyak terbukti dengan berbisnis bisa mendatangkan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup, bahkan ada yang mendapatkan keuntungan besar, Syaratnya harus segera dirintis secara serius, dilakoni dengan tekun, dan menjalankan starategi yang benar untuk menjaring pangsa pasar, selain itu tabah menghadapi rintangan, termasuk resiko terbesar berupa kebangkrutan.
Seperti itulah hukum bisnis yang dipahami, Dimana ada peluang akan mendapatkan keuntungan besar, disitu pula tersimpan risiko yang besar.Bagi orang yang berpikir positif dan kreatif, resiko akan dianggap sebagai sebuah tantangan, mereka biasanya bahkan berfikir terbalik, dimana ada resiko besar biasanya tersimpan potensi keuntungan yang besar pula, mereka tak menganggap berani berbisnis berarti berani rugi, sebaliknya berani berbisnis berarti berani mendapatkan untung.
Sebaliknya orang yang pesimistis akan menilai risiko sebagai penghalang yang tak bisa dilalui. Biasanya mereka akan memilih sebagai safety player, dengan menerima penghasilan yang sudah tertakar.Bukan pilihan yang salah, karena ini tidak terkait dengan salah dan benar, ini hanya soal keputusan memilih jalan hidup, mau seperti kepiting yang didalam keranjang atau bergerak bebas, jadi untuk berbisnis dibutuhkan motivasi besar meninggalkan zona aman.
Tuesday, March 16, 2010
Mengelola Keuangan
Mengelola Keuangan Series : Tabungan, Deposito versus Inflasi ?
Apakah Anda Bertambah KAYA?
Kita semua tahu kalau kita menabung di bank, maka kita akan mendapatkan bunga sehingga semakin lama jumlah tabungan kita akan semakin bertambah. Apakah Anda bertambah kaya dengan bunga yang Anda dapatkan dari bank?
Anggap saja sekarang Anda punya uang sebanyak sepuluh juta rupiah (Rp. 10.000.000,-). Uang ini Anda tabung ke dalam deposito berjangka 1 tahun dengan bunga 8%. Apabila kita hitung secara sederhana, di tahun mendatang jumlah uang tabungan Anda akan bertambah menjadi Rp. 10.800.000,-.
Pertanyaannya adalah: Apakah Anda bertambah kaya?
Apabila Anda hanya melihat dari angka nominal, Jawabannya adalah BENAR. Anda makin kaya. Alasannya adalah jumlah uang Anda bertambah sebesar delapan ratus ribu rupiah (Rp. 800.000,-).
Sekarang mari kita lihat dari aspek real. Anggap saja pada tahun ini harga 1 kg telur adalah sepuluh ribu rupiah (Rp. 10.000,-). Dengan uang sebesar sepuluh juta rupiah, pada saat ini Anda dapat membeli 1.000 kg telur
Pada tahun berikutnya, jumlah uang Anda bertambah menjadi Rp. 10.800.000,-. Di sisi lain, harga telur juga naik, katakanlah menjadi Rp. 11.000,-. Jadi dengan jumlah uang Anda pada saat itu, Anda hanya bisa membeli 981 kg telur. Lebih sedikit 19 kg dibandingkan dengan sekarang.
Kembali ke pertanyaan semula: Apakah Anda bertambah kaya?
Jawabannya adalah TIDAK. Sebab jumlah barang yang bisa Anda
beli dengan uang Anda justru semakin sedikit.
---------------
HOT TIPS :
---------------
Dalam memilih produk tabungan, Anda juga perlu turut memperhitungkan inflasi. Bunga dari tabungan Anda harus lebih tinggi dari tingkat inflasi. Apabila tidak, maka Anda akan menjadi semakin miskin.
BPR Universal menawarkan solusi untuk keuangan Anda, Simpan dalam Deposito yang dijamin LPS saja Anda akan memperoleh imbal balik bunga sebesar 10,25 % !
Bayangkan apabila Anda seorang pengambil resiko dan menginginkan hasil investasi jauh lebih tinggi dari deposito di bank konvensional, serta memerlukan bunga dari deposito untuk keperluan-keperluan investasi Anda, hmmm, akan sangat menarik tentunya. Anda pun dapat mendapatkan Deposito dengan bunga di atas nilai wajar yang dijamin LPS yang berlaku saat ini.
Untuk memperoleh informasi tentang produk perbankan kami, Hubungi Account Officer Kami 021 - 87916646 Bank Perkreditan Rakyat UNIVERSAL CIBINONG.
\\sales and marketing BPR Universal Cibinong
Apakah Anda Bertambah KAYA?
Kita semua tahu kalau kita menabung di bank, maka kita akan mendapatkan bunga sehingga semakin lama jumlah tabungan kita akan semakin bertambah. Apakah Anda bertambah kaya dengan bunga yang Anda dapatkan dari bank?
Anggap saja sekarang Anda punya uang sebanyak sepuluh juta rupiah (Rp. 10.000.000,-). Uang ini Anda tabung ke dalam deposito berjangka 1 tahun dengan bunga 8%. Apabila kita hitung secara sederhana, di tahun mendatang jumlah uang tabungan Anda akan bertambah menjadi Rp. 10.800.000,-.
Pertanyaannya adalah: Apakah Anda bertambah kaya?
Apabila Anda hanya melihat dari angka nominal, Jawabannya adalah BENAR. Anda makin kaya. Alasannya adalah jumlah uang Anda bertambah sebesar delapan ratus ribu rupiah (Rp. 800.000,-).
Sekarang mari kita lihat dari aspek real. Anggap saja pada tahun ini harga 1 kg telur adalah sepuluh ribu rupiah (Rp. 10.000,-). Dengan uang sebesar sepuluh juta rupiah, pada saat ini Anda dapat membeli 1.000 kg telur
Pada tahun berikutnya, jumlah uang Anda bertambah menjadi Rp. 10.800.000,-. Di sisi lain, harga telur juga naik, katakanlah menjadi Rp. 11.000,-. Jadi dengan jumlah uang Anda pada saat itu, Anda hanya bisa membeli 981 kg telur. Lebih sedikit 19 kg dibandingkan dengan sekarang.
Kembali ke pertanyaan semula: Apakah Anda bertambah kaya?
Jawabannya adalah TIDAK. Sebab jumlah barang yang bisa Anda
beli dengan uang Anda justru semakin sedikit.
---------------
HOT TIPS :
---------------
Dalam memilih produk tabungan, Anda juga perlu turut memperhitungkan inflasi. Bunga dari tabungan Anda harus lebih tinggi dari tingkat inflasi. Apabila tidak, maka Anda akan menjadi semakin miskin.
BPR Universal menawarkan solusi untuk keuangan Anda, Simpan dalam Deposito yang dijamin LPS saja Anda akan memperoleh imbal balik bunga sebesar 10,25 % !
Bayangkan apabila Anda seorang pengambil resiko dan menginginkan hasil investasi jauh lebih tinggi dari deposito di bank konvensional, serta memerlukan bunga dari deposito untuk keperluan-keperluan investasi Anda, hmmm, akan sangat menarik tentunya. Anda pun dapat mendapatkan Deposito dengan bunga di atas nilai wajar yang dijamin LPS yang berlaku saat ini.
Untuk memperoleh informasi tentang produk perbankan kami, Hubungi Account Officer Kami 021 - 87916646 Bank Perkreditan Rakyat UNIVERSAL CIBINONG.
\\sales and marketing BPR Universal Cibinong
Serba serbi investasi emas
Mau beli emas untuk investasi? Emas memang dikenal luas sebagai pilihan investasi paling aman apalagi saat kondisi ekonomi sedang labil atau sulit untuk diprediksi. Aman karena nilainya akan tetap sama dimana pun dan kapan pun anda ingin menjualnya. Tapi tentu saja margin keuntungan investasi emas tidak bisa disamakan dengan investasi bisnis lain pada umumnya (Baca Artikel: Bisnis Beresiko Kecil untuk Karyawan).
Investasi emas yang cukup baik adalah investasi emas dalam bentuk batangan (emas logam mulia) karena mudah untuk dijual kembali. Selain itu, emas batangan tidak meminta ongkos pembuatan seperti halnya emas perhiasan.
Disebut emas batangan karena emas ini berbentuk seperti batangan pipih atau batubata, dimana kadar emasnya adalah 22 atau 24 karat, atau apabila dalam persentase adalah 95% dan 99%.
Emas batangan tersedia dalam ukuran 1gr sampai yang terberat adalah 1kg. Semakin kecil ukurannya maka ongkos pembuatannya menjadi semakin murah. Sebaiknya anda membeli emas batangan dalam ukuran yang besar untuk memperkecil jumlah total ongkos yang harus dikeluarkan.
Untuk pembelian emas batangan ini tidak diperlukan persyaratan tertentu. Emas batangan dapat diperoleh di kantor Pegadaian, toko perhiasan/ toko emas, dan di PT. Aneka Tambang atau disingkat PT. Antam, Unit Bisnis PP Logam Mulia, Jl. Pemuda - Jl. Raya Bekasi Km. 18, Pulogadung, Jakarta 13010. Diantara semuanya, PT. Antam yang paling lengkap menyediakan emas dalam bentuk batangan ini.
Investasi emas yang cukup baik adalah investasi emas dalam bentuk batangan (emas logam mulia) karena mudah untuk dijual kembali. Selain itu, emas batangan tidak meminta ongkos pembuatan seperti halnya emas perhiasan.
Disebut emas batangan karena emas ini berbentuk seperti batangan pipih atau batubata, dimana kadar emasnya adalah 22 atau 24 karat, atau apabila dalam persentase adalah 95% dan 99%.
Emas batangan tersedia dalam ukuran 1gr sampai yang terberat adalah 1kg. Semakin kecil ukurannya maka ongkos pembuatannya menjadi semakin murah. Sebaiknya anda membeli emas batangan dalam ukuran yang besar untuk memperkecil jumlah total ongkos yang harus dikeluarkan.
Untuk pembelian emas batangan ini tidak diperlukan persyaratan tertentu. Emas batangan dapat diperoleh di kantor Pegadaian, toko perhiasan/ toko emas, dan di PT. Aneka Tambang atau disingkat PT. Antam, Unit Bisnis PP Logam Mulia, Jl. Pemuda - Jl. Raya Bekasi Km. 18, Pulogadung, Jakarta 13010. Diantara semuanya, PT. Antam yang paling lengkap menyediakan emas dalam bentuk batangan ini.
Tips Membuka Usaha Baru ...
Tips Membuka Usaha Baru
Demikian juga ketika anda membuka usaha atau bisnis seperti toko online, butik online, toko pakaian wanita atau baju wanita. Anda harus memulainya dengan apa yang anda sukai yang melambangkan diri anda sesungguhnya. Berikut kami memberikan tips membuka usaha atau bisnis yang akan menjadi perwujudan diri anda sesungguhnya :
1. Gagasan usaha haruslah berasal dari diri anda
Perhatikan talenta, bakat, hobi dan minat anda : tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan sesuatu yang menjadi kesukaan.Pengalaman kerja : keahlian dan pengetahuan yang kita peroleh di waktu lalu akan sangat menolong kita memulai usaha sejenis di masa depan mis toko online atau butik online.
2. Miliki gagasan bisnis yang jelas. Gagasan bisnis anda harus memiliki focus, konkrit, mudah dikerjakan, telah diketahui kebutuhan pasarnya, pendanaan tidak terlalu besar hingga anda dibelit hutang dan terakhir setiap langkahnya harus sederhana untuk bisa dilakukan.
3. Masuki pasar dengan membawa perbedaan. Anda dapat memasuki pasar yang telah ada dengan menawarkan sesuatu yang lebih berkualitas, unik dan memiliki nilai tambah. Sedikit nilai tambah dan keunikan usaha justru dapat menjadi perbedaan besar bagi usaha anda. cth pakaian wanita atau aksesoris wanita.
4. Carilah mentor, mitra usaha dan komunitas. Pelajaran terbaik bisnis anda diperoleh melalui pengalaman, nasehat dan kegagalan pihak lain. Pengetahuan manajemen, keuangan, pemasaran dan masalah teknis akan lebih baik jika diperoleh dari mereka yang telah memiliki pengalaman terbang. Mentor, kemitraan, komunitas usaha atau asosiasi membuat anda lebih kuat menghadapi tantangan dan masalah ketika merintis usaha baru.
5. Mulailah dengan operasi berskala kecil. Jangan percaya sesuatu yang besar selalu lebih baik. Usaha sehat justru adalah usaha berskala kecil yang kemudian mengembang, bukan usaha yang langsung dijalankan dengan skala besar. Usaha berskala kecil cth baju wanita, aksesoris wanita dll juga menjadi guru terbaik karena menjadi tempat belajar menangani masalah dari yang paling sederhana.
6. Jangan lekas percaya tawaran waralaba atau franchise serta keagenan. Waralaba atau keagenan biasanya berarti suatu langkah yang terbukti untuk bisa dijalankan, adanya dukungan pemasaran dan pengakuan dari segi nama. Namun sebagai pembeli nama perlu waspada. Yakinkan anda telah melakukan penelitian dengan seksama sehingga anda tidak perlu membayar sesuatu yang dapat anda lakukan seorang diri.
7. Miliki etos kerja dan etos usaha yang baik. Etos kerja dan usaha akan menentukan jalannya usaha anda ketika anda menghadapi kompetisi dan tantangan masalah. Etos kerja akan menyelamatkan anda dari berbagai penyimpangan dan kerugian.
8. Jalankan bisnis dan usaha selalu dalam kehendak Tuhan. Mazmur mengatakan bahwa berkat Tuhan-lah yang menjadikan anda kaya dan susah payah tidak akan menambahi keuntungan. Selalu membawa usaha yang anda lakukan dalam doa dan terus merenungkan setiap kebenaran Tuhan akan membuat apa yang anda lakukan selalu berhasil dan anda akan selalu beruntung.
Informasi mengenai usaha dapat anda temukan pada Toko online, Butik Online, Baju Wanita, Aksesori Wanita, Pakaian Wanita dan Toko & Butik Online : Belanja Online Pakaian & Baju Wanita - Aksesori Wanita pada 88db.com
http://www.jawaban.com/news/money/detail.php?id_news=071212185659
Demikian juga ketika anda membuka usaha atau bisnis seperti toko online, butik online, toko pakaian wanita atau baju wanita. Anda harus memulainya dengan apa yang anda sukai yang melambangkan diri anda sesungguhnya. Berikut kami memberikan tips membuka usaha atau bisnis yang akan menjadi perwujudan diri anda sesungguhnya :
1. Gagasan usaha haruslah berasal dari diri anda
Perhatikan talenta, bakat, hobi dan minat anda : tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan sesuatu yang menjadi kesukaan.Pengalaman kerja : keahlian dan pengetahuan yang kita peroleh di waktu lalu akan sangat menolong kita memulai usaha sejenis di masa depan mis toko online atau butik online.
2. Miliki gagasan bisnis yang jelas. Gagasan bisnis anda harus memiliki focus, konkrit, mudah dikerjakan, telah diketahui kebutuhan pasarnya, pendanaan tidak terlalu besar hingga anda dibelit hutang dan terakhir setiap langkahnya harus sederhana untuk bisa dilakukan.
3. Masuki pasar dengan membawa perbedaan. Anda dapat memasuki pasar yang telah ada dengan menawarkan sesuatu yang lebih berkualitas, unik dan memiliki nilai tambah. Sedikit nilai tambah dan keunikan usaha justru dapat menjadi perbedaan besar bagi usaha anda. cth pakaian wanita atau aksesoris wanita.
4. Carilah mentor, mitra usaha dan komunitas. Pelajaran terbaik bisnis anda diperoleh melalui pengalaman, nasehat dan kegagalan pihak lain. Pengetahuan manajemen, keuangan, pemasaran dan masalah teknis akan lebih baik jika diperoleh dari mereka yang telah memiliki pengalaman terbang. Mentor, kemitraan, komunitas usaha atau asosiasi membuat anda lebih kuat menghadapi tantangan dan masalah ketika merintis usaha baru.
5. Mulailah dengan operasi berskala kecil. Jangan percaya sesuatu yang besar selalu lebih baik. Usaha sehat justru adalah usaha berskala kecil yang kemudian mengembang, bukan usaha yang langsung dijalankan dengan skala besar. Usaha berskala kecil cth baju wanita, aksesoris wanita dll juga menjadi guru terbaik karena menjadi tempat belajar menangani masalah dari yang paling sederhana.
6. Jangan lekas percaya tawaran waralaba atau franchise serta keagenan. Waralaba atau keagenan biasanya berarti suatu langkah yang terbukti untuk bisa dijalankan, adanya dukungan pemasaran dan pengakuan dari segi nama. Namun sebagai pembeli nama perlu waspada. Yakinkan anda telah melakukan penelitian dengan seksama sehingga anda tidak perlu membayar sesuatu yang dapat anda lakukan seorang diri.
7. Miliki etos kerja dan etos usaha yang baik. Etos kerja dan usaha akan menentukan jalannya usaha anda ketika anda menghadapi kompetisi dan tantangan masalah. Etos kerja akan menyelamatkan anda dari berbagai penyimpangan dan kerugian.
8. Jalankan bisnis dan usaha selalu dalam kehendak Tuhan. Mazmur mengatakan bahwa berkat Tuhan-lah yang menjadikan anda kaya dan susah payah tidak akan menambahi keuntungan. Selalu membawa usaha yang anda lakukan dalam doa dan terus merenungkan setiap kebenaran Tuhan akan membuat apa yang anda lakukan selalu berhasil dan anda akan selalu beruntung.
Informasi mengenai usaha dapat anda temukan pada Toko online, Butik Online, Baju Wanita, Aksesori Wanita, Pakaian Wanita dan Toko & Butik Online : Belanja Online Pakaian & Baju Wanita - Aksesori Wanita pada 88db.com
http://www.jawaban.com/news/money/detail.php?id_news=071212185659
Thursday, September 3, 2009
Selamat datang...
Selamat datang di blog seputar dunia leasing dan pembiayaan mikro.
Blog ini didesain untuk kepentingan sharing, knowing, learning, serta kesempatan mengembangkan bisnis atau usaha terkait dengan latar belakang yang punya blog ini.
Mohon blogger yang berkenan untuk melengkapi informasi, sharing, comment, sebagai saran, kritik, atau solusi agar media ini dapat menjadi sebuah arena "sekolah alam" yang menyenangkan untuk belajar dan mencari lebih banyak lagi rejeki di kemudian hari.
Salam,
Felix
Blog ini didesain untuk kepentingan sharing, knowing, learning, serta kesempatan mengembangkan bisnis atau usaha terkait dengan latar belakang yang punya blog ini.
Mohon blogger yang berkenan untuk melengkapi informasi, sharing, comment, sebagai saran, kritik, atau solusi agar media ini dapat menjadi sebuah arena "sekolah alam" yang menyenangkan untuk belajar dan mencari lebih banyak lagi rejeki di kemudian hari.
Salam,
Felix
Subscribe to:
Posts (Atom)
